31 Agustus 2016


Data PMI Global


https://www.markiteconomics.com/Survey/PressRelease.mvc/4ddba2bd255d49c1b834ee713e4abecc

Data PMI Jepang


https://www.markiteconomics.com/Survey/PressRelease.mvc/32ebd69a85da4365be6ab7757830948e

8 April 2016

Beberapa Mitra Negara yang Penting Bagi Indonesia


Meminjam dari artikel dari Silvia Hanna (Staf Departemen Kajian Strategis BEM FEB UGM 2016) bahwa setiap negara tak pernah terlepas dari kegiatan ekspor dan impor. Kegiatan ekspor impor didasari oleh kondisi bahwa setiap negara memiliki karakteristik sumber daya masing-masing dan tentunya karakteristik tersebut berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Untuk melengkapi dan mengisi perbedaan karakteristik tersebutlah, kegiatan ekspor impor dilakukan. Menurut KBBI, pengertian ekspor adalah pengiriman barang dagangan ke luar negeri. Barang dagangan yang dimaksud bisa berupa barang secara fisik ataupun jasa. Ekspor merupakan salah satu tolak ukur penting untuk mengetahui seberapa besar pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Negara ekspor terbesar Indonesia urutan pertama adalah RRC, kemudian disusul oleh AS, Jepang, India, dst.

Menurut KBBI, pengertian impor adalah pemasukan barang dan sebagainya dari luar negeri ke dalam negeri. Sama seperti impor, barang yang dimaksud disini adalah barang dalam bentuk fisik dan juga jasa. Dengan adanya impor, pemenuhan kebutuhan suatu negara dapat terpenuhi. Impor bermanfaat untuk mengisi kekosongan barang atau jasa yang tidak dapat diproduksi oleh negara itu sendiri. Contohnya, mesin-mesin canggih di pabrik. Tidak semua negara memiliki kemampuan untuk memproduksi sendiri mesin-mesin industri, sehingga jika ingin industri mereka berkembang, negara tersebut harus mengimpornya dari negara-negara yang mampu memproduksi mesin-mesin tersebut. Negara impor terbesar Indonesia urutan pertama adalah RRC, kemudian disusul oleh Jepang, Singapura, dst.

Bila diurutkan perkembangan ekspor non migas (komoditi) adalah sebagai berikut: 


1 April 2016

Sejarah dan Kritik buat BEI

Sejarah singkat berkembangnya Bursa Efek Indonesia sampai sekarang :

1. Pada tahun 1619 VOC Belanda yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah 

ekspansi di Indonesia tepatnya di kota Jakarta.

2. Pada tahun 1912 Bursa Efek Batavia (BEB) berdiri di Jakarta yang kemudian menjadi wadah transaksi jual beli saham, obligasi perusahaan-perusahaan
Belanda, serta obligasi pemerintah Indonesia. Seiring dengan perkembangannya yang pesat, pada tahun 1925, BEB membuka cabang di Semarang dan Surabaya.

3. Pada tahun 1929, Bursa Wall-Street di Amerika mengalami great depression yang berimbas pada dunia dan Indonesia sehingga pada tahun 1939,
membuat seluruh kantor cabang BEB akhirnya ditutup pada tahun 1940. Tahun 1945, Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan setelah perang
revolusi selama 5 tahun, Pemerintah Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun 1952, BEB kembali dibuka namun diganti dengan nama Bursa Efek Jakarta (BEJ).

4. Pada tahun 1960-an perekonomian kembali hancur sehingga mengakibatkan Bursa Efek Jakarta (BEJ) “mati suri”, Pada tahun 1970-an, BEJ “hidup” kembali. Dan
kali ini BEJ benar-benar beroperasi seperti layaknya Bursa Saham pada umumnya, ditandai dengan IPO PT Semen Cibinong (SMCB) pada tahun 1977.

5. Pada 13 Juli 1992, BEJ diprivatisasi dengan dibentuknya PT. Bursa Efek Jakarta. Kemudian pada 1995, perdagangan elektronik di BEJ dimulai. Setelah
sempat jatuh ke sekitar 300 poin pada saat-saat krisis, BEJ mencatat rekor tertinggi baru pada awal tahun 2006 setelah mencapai level 1.500 poin berkat
adanya sentimen positif dari dilantiknya presiden baru, Susilo Bambang Yudhoyono. Peningkatan pada tahun 2004 ini sekaligus membuat BEJ menjadi salah satu
bursa saham dengan kinerja terbaik di Asia pada tahun tersebut.

6. Pada tahun 2007 BEJ melakukan merger dengan Bursa Efek Surabaya dan berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Penggabungan ini menjadikan
Indonesia hanya memilki satu pasar modal.
Secara hakekatnya, makna dari bursa saham adalah tempat mendistribusi kemakmuran/kekayaan (wealth redistribute) perusahaan besar agar dapat nikmati oleh
investor publik. Sudah seharusnya investor yang memegang saham perusahaan tersebut menikmati keuntungan (gain atau deviden) dari investasinya. Teori yang
mengatakan bahwa Bursa Efek Indonesia merupakan ajang untuk mencari dana perusahaan sampai saat ini belum penulis temukan. Namun disisi lain banyak juga
ditemukan emiten yang memanipulasi laporan keuangannya (LK). Padahal laporan keuangan merupakan “rapor” perusahaan yang menandakan perusahaan tersebut
bagus/tidak.

 

Apa solusi yang tepat untuk memajukan Bursa Efek Indonesia?

1. “Draw a red line (tandai garis merah)”/ “Coret” / “Hapus saja!”emiten yang laporan keuangan (LK) perusahaannya yang tidak beres atau mengandung unsur
manipulatif.

2. Pidanakan/Penjarakan manajemen emiten yang laporan keuangan (LK) perusahaannya yang tidak beres atau mengandung unsur manipulatif.

3. Menjaga kualitas emiten-emiten di bursa dengan memperketat syarat-syarat IPO. Jangan masukan emiten yg masih tidak jelas bisnisnya, atau yang hanya
mengincar dana investor retail. Jika investor retail diperbolehkan membeli perusahaaan sampah (emiten sampah), maka pada hakekatnya bursa hanyalah menjadi
ajang tempat perampokan oleh emiten terhadap masyarakat.

4. Mengurangi promosi investasi pada masyarakat khususnya kelas ekonomi menengah bawah dan meningkatkan setoran awal membuka rekening investasi. Tujuannya
agar masyarakat kelas bawah (yg kebanyakan tidak mengerti investasi karena latar berlakang pendidikannya) tidak ikut di “rampok” oleh emiten sampah.

 

"Sangat dianjurkan untuk menggunakan instrumen investasi (Reksadana) untuk investor ekonomi menengah bawah karena lebih aman dan dikelola secara
professional"

30 Maret 2016

Melihat Data PMI

Manufacturing Purchasing Manager's Index (PMI) adalah Indikator yang mengukur perkembangan dari sektor industri dari sisi manajer pembelian. Didalamnya ada sekitar 50 faktor yang manjadi acuan.Kenaikan trend ini sangat berpengaruh pada kenaikan nilai mata uang lokal. Laporan ini dihasilkan dari survey terhadap setiap manajer pembelian seperti tenaga kerja, produksi, tingkat permintaan baru, pengiriman barang oleh suplier, dan jumlah persediaan. Para Trader percaya bahwa indikator ini dapat mengukur perkembangan dari perusahaan setiap manajer pembelian, dan yang terutama, Indiaktor ini dapat menjelaskan perkembangan ekonomi negara tersebut.


"Jika nilai Manufacturing PMI suatu negara naik maka nilai mata uang negara tersebut akan mengalami kenaikan"





Bank Rakyat Indonesia




Siapa yang tidak kenal dengan bank BRI? 
Bank BRI tersebar di berbagai pelosok desa maupun kota di Indonesia dan  merupakan bank no 2 terbesar dari sisi aset di Indonesia (saingan sama bank Mandiri dan BCA). Salah satu inovasi BRI, untuk memberikan layanan jasa perbankan kepada seluruh masyarakat Indonesia adalah peluncuran Satelit BRI atau BRISat yang akan diselenggarakan pada pertengahan 2016. Corporate Secretary BRI, mengungkapkan saat ini sedang dilakukan instalasi dan testing untuk equipment antenna dan persiapan Final Performance Test pada April 2016 di California. Selanjutnya akan dilakukan Spacecraft Pre-Shipment Review (SPSR) pada awal Mei 2016 sebagai review terakhir sebelum BRIsat dikirimkan ke Launch Site di Kourou, French Guyana. 
Sebagai salah satu bank terbaik , BRI memiliki  keunggulan yaitu sebagai bank milik pemerintah yang berperan mewujudkan visi pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh manajemen bank BRI dalam terus gencar menyalurkan kredit mikro sebagai bagian dari program pemerintah. 


Sejarah Singkat Bank BRI


Bank Rakyat Indonesia berdiri sejak tahun 1968, dan berubah menjadi bank persero pada 29 April 1992. Pada tanggal 31 Oktober 2003, Pemerintah melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering (“IPO”)) sebesar 3.8 milyar lembar saham dengan harga jual 875 Rupiah kepada investor publik, yang kemudian berkembang pesat dengan meningkatnya harga saham bank BRI menjadi 10 ribuan (setelah stocksplit) sampai sekarang.
 
Kepemilikan saham BBRI (update LK Audit 2015) adalah sebagai berikut




7 April 2015

PENGENALAN FUNDAMENTAL BANK

Sebagai investor kita harus tahu bahwa selama ini bank merupakan lembaga keuangan yang kegiatannya memberikan kredit serta menghimpun juga menyalurkan dana
dari atau kepada masyarakat sebagai fungsi memperlancar lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.

Namun jarang diantara kita yang masih belum memahami bagaimana kinerja sebuah bank itu baik atau jelek. Penulis akan memberikan sedikit pengenalan mengenai
pengenalan dasar variable fundamental suatu bank.

24 Maret 2015

EMITEN DAN KONGLOMERASI


Grup BUMN: #BMRI, #BBRI, #BBNI, #BBTN, #AGRO (anak usaha #BBRI), #WIKA, #ADHI, #PTPP, #WSKT, #SMGR, #SMBR, #TLKM, #PGAS, #JSMR, #GIAA, #KAEF, #INAF, #ELSA
(dimiliki Pertamina), #PTBA, #TINS, #ANTM, dan #KRAS
Grup BUMD: #BJBR, #BJTM, #PJAA, #GMTD

21 Oktober 2014

Pendongkrak IHSG

Saham-saham ini mempengaruhi indeks harga saham gabungan




Sebuah link dari Jumlah investor update 2014 mengatakan bahwa hanya satu persen masyarakat kita yang menjadi investor. Hal ini berarti dari 250 juta penduduk hanya 2,5 juta sebagai investor saham. Itupun belum semuanya sukses (bisa jadi sekedar kuantitas bukan kualitas). Dokter Bobo sebagai salah satu investor saham paham betul bahwa saham adalah jenis investasi paling berisiko. Namun jika kita sudah terjun di dalamnya, tentu anda sudah paham betul bahwa sangat besar keuntungan dari saham bahkan bisa mencapai 2x lipat, 5x lipat, dan 10x lipat dari modal awal.
Investor yang sukses adalah investor yang selalu belajar, bahkan Warrent Buffet pun mengakuinya. Terbukti dari saham yang dipegangnya melalui Berkshire Hathaway sukses walaupun tidak singkat (longterm). Kenapa Buffet bisa? saya menduga beliau sudah paham sekali dengan rumus-rumus sederhana saham, sehingga beliau bisa mendapatkan saham yang undervalued namun memiliki kinerja yang memuaskan. Biasakanlah membeli saham seperti itu !
Rumus-rumus dasar sederhana ini saya berikan agar bisa menjadi panduan anda dalam memilih saham yang undervalued. 
  1. BV (Book Value) = Ekuitas dibagi jumlah saham yang beredar
  2. PBV (Price Book Value) = Harga saham dibagi Book Value (BV)
  3. PER (Price Earning Ratio) = (Harga saham dikali jumlah saham beredar) dibagi laba bersih
  4. EPS (Earning Per Share) = Laba bersih dibagi dengan jumlah saham yang beredar
  5. ROE (Return On Equity) = Laba bersih dibagi dengan (ekuitas tahun ini + ekuitas tahun lalu dibagi 2 )
  6. ROA (Return On Asset) = Laba bersih dibagi dengan (total aset tahun ini + total aset tahun lalu dibagi 2 )
  7. DER (Debt Equity Ratio) = Total hutang (liabilitas jangka pendek+liabilitas jangka panjang) dibagi dengan Ekuitas
  8. ROCE (Return On Capital Employed) = Operating profit dibagi dengan (Rata-rata modal kerja)
  9. Modal kerja = Hutang jangka panjang + Ekuitas 
  10. Rata-rata modal kerja = Modal kerja tahun ini + modal kerja tahun lalu dibagi 2
Catatan: Nomor 8 (ROCE) mungkin agak lebih susah bagi pemula namun saya akan kasih link ini ROCE

STOCK SPLIT (2006-2014)

2006: 
TSPC 1:10 DPNS 1:2 TMAS 1:2 PJAA 1:2 LPKR 1:2 JRPT 1:5 BBLD 1:2 EKAD 1:2 APOL 1:2 PLIN 1:5
2007:
AKRA 1:5 ANTM 1:5 BMTR 1:5 CPIN 1:2 DAVO 1:2 HADE 1:2 HITS 1:2 LPKR 1:2 PWON 1:5 SMGR 1:10 SOBI 1:5 JPRS 1:5

12 Oktober 2014

HINDARKAN DIRI DARI MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN


1. Bandingkan antara penerimaan kas dalam laporan arus kas dengan nilai penjualan. Dalam jangka panjang angka ini mestinya adalah sama.
2. Bandingkan antara kas bersih operasi yang dihasilkan dengan laba bersih perusahaan. Angka ini harusnya lebih tinggi daripada laba bersih karena arus kas operasi tidak mengandung unsur-unsur non-kas seperti penyusutan, amortisasi. Namun ini juga tergantung kepada jenis perusahaan. Misalnya perusahaan investasi yang bisa jadi mencatat laba dari kenaikan nilai investasi namun tidak menerima hasil tersebut berhubung memang tidak dijual.
3. Jika omset naik terus namun laba bersih jalan di tempat karena tingginya beban-beban, maka ini ditengarai ada sesuatu.
4. Omset sangat besar namun laba bersih sangat kecil.
5. Laba bersih monoton dan tidak berkembang dan berada pada level yang rendah selama bertahun-tahun.
6. Banyak transaksi afiliasi baik transaksi penjualan maupun transaksi pembelian bahan baku.
7. Laporan keuangan yang terlalu rumit memang berpotensi menimbulkan masalah.
8. Banyaknya jumlah piutang maupun hutang afiliasi.
9. Perusahaan yang sering gonta-ganti bidang usaha menimbulkan tanda tanya.
10. Perusahaan yang sering akuisisi dan divestasi juga mengundang tanda tanya apalagi kalau akuisisi aset dari pihak berelasi.
11. Persediaan yang meningkat namun omset tidak meningkat sepadan.
12. Adanya akun-akun aneh yang tidak berubah selama bertahun-tahun. Seperti akun investasi, panjar jangka panjang.

2 September 2014

MENGENAL LAPORAN KEUANGAN EMITEN

Laporan keuangan adalah hal yang menjadi dasar bagi investor untuk melihat fundamental perusahaan. Biasanya setiap 3 bulan sekali emiten wajib memberikan laporan keuangan yang bisa anda lihat di Bursa Efek Indonesia yakni pada bulan Maret, Juni, September, Desember. Penulis akan memberikan solusi bagaimana cara membaca laporan keuangan secara mudah dan tepat. Berikut ini adalah contoh laporan keuangan milik PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI). Saya membagi nya menjadi 4 bagian yaitu: (klik untuk memperbesar)

Pertama: Laporan Posisi Keuangan (Neraca)= Aset, Liabilitas, dan Ekuitas



Kedua: Laporan Laba-Rugi


20 Januari 2014

Economic Value Added (EVA)

Economic Value Added (EVA) membantu kita sebagai investor dalam melihat kinerja perusahaan. Sebenarnya untuk menganalisis fundamental banyak sekali indikator-indikator yang membuat kepala pusing, namun penulis akan membahasnya dengan bahasa yang sesederhana mungkin.
Economic Value Added merupakan pengukuran nilai tambah ekonomis sebuah perusahaan sebagai hasil dari aktivitas dan strategi manajemen. Rata-rata perusahaan yang listing di bursa efek dan Dow Jones sendiri  menggunakan metode EVA untuk mengukur efektivitas dari manajemen finansial mereka. Secara sederhana EVA diperoleh dari laba usaha dikurangi oleh biaya-biaya atas capital yang diinvestasikan yang disebut dengan capital charges, baik dalam perusahaan secara keseluruhan, ditingkat unit bisnis, pabrik, atau kantor.

Pendekatan EVA telah memasukkan semua unsur dalam laporan laba/rugi dan neraca perusahaan sehingga oleh karenanya sering dikenal dengan “total faktor” kinerja atau boleh dikatakan metode ini fundamental of fundamental, meskipun masih banyak hal-hal untuk mengukur kinerja perusahaan sebenarnya. Manfaat metode EVA ini adalah :
  • EVA merupakan suatu ukuran kinerja perusahaan yang dapat berdiri sendiri tanpa perbandingan dengan perusahaan lain yg sejenis.
  •  Hasil penghitungan EVA mendorong pengalokasian dana perusahaan untuk investasi dengan biaya modal yang rendah.
  • EVA digunakan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan dan fokus terhadap penciptaan nilai (value), artinya yang diukur sejauh mana perusahaan tersebut memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan baginya.
  • EVA menyebabkan perusahaan lebih memperhatikan struktur modal
  • Investor bisa bertindak memilah-milah perusahaan yang tingkat pengembaliannya meningkat atau menurun berdasarkan metode ini.
  • EVA dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kegiatan/proyek yang memberikan pengembalian lebih tinggi daripada biaya modal-modalnya.
Selain manfaat yang dijelaskan diatas, EVA merupakan pengukuran yang sangat penting karena dapat digunakan sebagai sinyal terjadinya tekanan keuangan pada suatu perusahaan. Jika suatu perusahaan tidak memperoleh profit diatas imbal hasil yang diharapkan, maka EVA menjadi negatif, yang artinya terjadi gangguan pada keuangan perusahaan.

Bagaimana pengaruh EVA terhadap return harga saham…? Bila perusahaan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih besar dari biaya modalnya, hal ini menandakan bahwa perusahaan berhasil menciptakan nilai bagi pemilik saham, sehingga hal ini akan menarik minat calon investor untuk menanamkan modalnya ke perusahaan tersebut dan hal ini mendorong terjadinya permintaan terhadap saham yang bersangkutan. Logika nya semakin banyak permintaan terhadap saham maka harga saham cenderung meningkat di pasar modal atau bursa saham. Menurut penelitian (1996) ditemukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara EVA dengan tingkat return saham artinya semakin tinggi EVA yang diciptakan perusahaan maka harga saham akan mengalami kenaikan yang pada akhirnya memberikan return saham yang tinggi.

Metode penghitungan Economic Value Added secara sederhana adalah :

EVA = NOPAT – Capital Charges,

yang dimaksud dengan NOPAT disini adalah net operating profit after tax yaitu laba bersih ditambah bunga setelah pajak. Capital Charges adalah biaya pinjaman dan biaya ekuitas yang digunakan untuk menghasilkan NOPAT. EVA yang bernilai positif atau EVA > 0, menunjukkan tingkat pengembalian yang dihasilkan melebihi tingkat pengembalian yang diharapkan investor dan mampu menutupi biaya-biaya yang timbul untuk memperoleh keuntungan tersebut. Keadaan ini juga menunjukkan bahwa perusahaan berhasil menciptakan nilai bagi pemilik modal karena telah memaksimumkan tingkat pengembalian atas biaya modal. (jika perusahaan EVA lebih besar nol, maka beli sahamnya, simpan longterm ) EVA yang bernilai = 0, maka secara ekonomis dapat dikatakan telah terjadi impas, karena semua laba telah digunakan untuk membayar kewajiban perusahaan kepada pemilik dana, baik kepada kreditur /bank maupun para pemegang saham. EVA yang bernilai < 0 , menunjukkan bahwa perusahaan gagal dalam menghasilkan tingkat pengembalian lebih rendah dari tingkat biaya modal yang diharapkan oleh investor. (jika EVA dibawah nol maka sebaiknya jangan beli sahamnya).

Perhitungan EVA tidaklah sesederhana diatas, ada beberapa tahapan yang harus dijalani untuk memperoleh hasil EVA yang bernilai plus, nol, atau minus, adapun tahapannya sebagai berikut (penulis menghitung nya secara kasar, tanpa mengurangi makna):

Hitung NOPAT.

NOPAT= EBIT x (1-tax rate), Ebit adalah laba sebelum bunga dan pajak

Pada laporan keuangan Q2 2013 VISI MEDIA ASIA (VIVA) Tbk. dengan tax ratio 12 % diketahui. 

NOPAT= 80.640.979.000 x (1-0,12), maka hasilnya 70.964.061.520

 

Menghitung Invested Capital ( IC )

IC = (total hutang + ekuitas) – hutang jangka pendek

IC= (1.014.588.768.000 + 2.008.284.942.000) – 356.804.194.000
hasil nya adalah 2.666.069.516.000


Menghitung WACC (Weight Average Cost of Capital)

WACC = (D x Rd) (1 - tax) + (E x Re)
D= total hutang / total hutang dan ekuitas x 100 %
Rd= beban bunga / total hutang jangka panjang x 100%
E= total ekuitas / total hutang dan ekuitas x 100 %
Re= laba bersih setelah pajak / total ekuitas x 100%
tax= beban pajak / laba bersih sebelum pajak x 100%

WACC = ( 40,5 x 7,7 ) (34,5) + ( 59,4 x 1,3 ) sehingga hasilnya 389,07 atau 3,89 (karena dibagi 100 persen tadi )

Menghitung Capital Charges ( CC )

CC = WACC x IC

CC= 3,89 x 2.666.069.516.000, hasilnya 10.371.010.417.240

Menghitung Economic Value Added (EVA)

EVA = NOPAT- Capital Charges
EVA= 70.964.061.520 - 10.371.010.417.240
EVA= - 10.300.046.355.720 (minus)

Kesimpulannya EVA < 0 artinya perusahaaan VISI MEDIA ASIA Tbk. tidak mampu menghasilkan tingkat kembalian operasi yang melebihi biaya modal. Meskipun laba bersihnya meningkat akan tetapi perusahaan mengalami penurunan / penghancuran nilai