1 April 2016

Sejarah dan Kritik buat BEI

Sejarah singkat berkembangnya Bursa Efek Indonesia sampai sekarang :

1. Pada tahun 1619 VOC Belanda yang bergerak di bidang perdagangan rempah-rempah 

ekspansi di Indonesia tepatnya di kota Jakarta.

2. Pada tahun 1912 Bursa Efek Batavia (BEB) berdiri di Jakarta yang kemudian menjadi wadah transaksi jual beli saham, obligasi perusahaan-perusahaan
Belanda, serta obligasi pemerintah Indonesia. Seiring dengan perkembangannya yang pesat, pada tahun 1925, BEB membuka cabang di Semarang dan Surabaya.

3. Pada tahun 1929, Bursa Wall-Street di Amerika mengalami great depression yang berimbas pada dunia dan Indonesia sehingga pada tahun 1939,
membuat seluruh kantor cabang BEB akhirnya ditutup pada tahun 1940. Tahun 1945, Presiden Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dan setelah perang
revolusi selama 5 tahun, Pemerintah Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun 1952, BEB kembali dibuka namun diganti dengan nama Bursa Efek Jakarta (BEJ).

4. Pada tahun 1960-an perekonomian kembali hancur sehingga mengakibatkan Bursa Efek Jakarta (BEJ) “mati suri”, Pada tahun 1970-an, BEJ “hidup” kembali. Dan
kali ini BEJ benar-benar beroperasi seperti layaknya Bursa Saham pada umumnya, ditandai dengan IPO PT Semen Cibinong (SMCB) pada tahun 1977.

5. Pada 13 Juli 1992, BEJ diprivatisasi dengan dibentuknya PT. Bursa Efek Jakarta. Kemudian pada 1995, perdagangan elektronik di BEJ dimulai. Setelah
sempat jatuh ke sekitar 300 poin pada saat-saat krisis, BEJ mencatat rekor tertinggi baru pada awal tahun 2006 setelah mencapai level 1.500 poin berkat
adanya sentimen positif dari dilantiknya presiden baru, Susilo Bambang Yudhoyono. Peningkatan pada tahun 2004 ini sekaligus membuat BEJ menjadi salah satu
bursa saham dengan kinerja terbaik di Asia pada tahun tersebut.

6. Pada tahun 2007 BEJ melakukan merger dengan Bursa Efek Surabaya dan berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Penggabungan ini menjadikan
Indonesia hanya memilki satu pasar modal.
Secara hakekatnya, makna dari bursa saham adalah tempat mendistribusi kemakmuran/kekayaan (wealth redistribute) perusahaan besar agar dapat nikmati oleh
investor publik. Sudah seharusnya investor yang memegang saham perusahaan tersebut menikmati keuntungan (gain atau deviden) dari investasinya. Teori yang
mengatakan bahwa Bursa Efek Indonesia merupakan ajang untuk mencari dana perusahaan sampai saat ini belum penulis temukan. Namun disisi lain banyak juga
ditemukan emiten yang memanipulasi laporan keuangannya (LK). Padahal laporan keuangan merupakan “rapor” perusahaan yang menandakan perusahaan tersebut
bagus/tidak.

 

Apa solusi yang tepat untuk memajukan Bursa Efek Indonesia?

1. “Draw a red line (tandai garis merah)”/ “Coret” / “Hapus saja!”emiten yang laporan keuangan (LK) perusahaannya yang tidak beres atau mengandung unsur
manipulatif.

2. Pidanakan/Penjarakan manajemen emiten yang laporan keuangan (LK) perusahaannya yang tidak beres atau mengandung unsur manipulatif.

3. Menjaga kualitas emiten-emiten di bursa dengan memperketat syarat-syarat IPO. Jangan masukan emiten yg masih tidak jelas bisnisnya, atau yang hanya
mengincar dana investor retail. Jika investor retail diperbolehkan membeli perusahaaan sampah (emiten sampah), maka pada hakekatnya bursa hanyalah menjadi
ajang tempat perampokan oleh emiten terhadap masyarakat.

4. Mengurangi promosi investasi pada masyarakat khususnya kelas ekonomi menengah bawah dan meningkatkan setoran awal membuka rekening investasi. Tujuannya
agar masyarakat kelas bawah (yg kebanyakan tidak mengerti investasi karena latar berlakang pendidikannya) tidak ikut di “rampok” oleh emiten sampah.

 

"Sangat dianjurkan untuk menggunakan instrumen investasi (Reksadana) untuk investor ekonomi menengah bawah karena lebih aman dan dikelola secara
professional"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar